Kutipan Buku
Cerpen Hari Raya Hantu

Cerpen Hari Raya Hantu

Oleh | Sabtu, 24 Maret 2018 03:34 WIB | 398 Views 2018-03-24 03:34:18

Hantu adalah “Kamu berjongkok memanggul tampah di kepala, dipinggir jalan tak jauh dari kuburan. Jangan lupa bakar kertas-kertas sembahyang, sediakan daun teh kering, serta tiga atau lima cangkir arak putih. Kamu tunggui mereka lewat. Ingat baik-baik, apa pun yang terlihat mata, kami jangan menjerit atau bergeming. Hanya boleh diam sampai pesta mereka usai.

Dingin ranjang dan udara malam. Remang cahaya lampu. Sesekali terdengar suara radio tetangga dan derik cengkerik di kejauhan. Dua ekor cicak kawin saling menggigit dan menghentak-hentakan ekor mereka di dinding kamar. Beberapa ekor nyamuk berputar-putar dikepala. Seekor di antaranya hinggap di wajahnya yang putih mulus. “Plok!” sesekali nyamuk sial itu tergencet dan darah menempel. Bangun sejenak, setengah sadar menggerutu, kemudian dengkur lelapnya kembali terdengar.

Ia sering melihat kakeknya bertelanjang dada, memakai celana pendek kumal, duduk di serambi rumah. Rumah tembok kecil dengan atap yang sudah kusam. Perut kakeknya bulat membuncit. Hidungnya memerah persis dengan hidung  yang dimilikinya. Alisnya putih. Rambutnya pendek belang antara hitam dan putih. Bola matanya hitam kekuningan. Selalu, ia menatap kakeknya yang pucat dan gemetar, untuk kemudian bertanya.

“Kungkung kan sudah lama mati, kenapa masih suka duduk di sini?”

Kakek mati menghela nafas panjang. Tetap duduk tak bergeming. Kemudian selalu ia akan menjawab dengan pertanyaan yang sama.

“Moi, apakah kau tak juga bosan bertanya? Selalu yang itu-itu saja”

“Tentu saja bosan, Kung...” ia menggerutu. “Tapi siapa tahu jawaban kali ini berbeda.”

Kakek mati tak pernah tertawa. Tentu saja, orang mati memang tak bisa tertawa.

“Jawabannya tetap sama: Kungkung tidak cukup makan dengan bunga. Kalian begitu pelitnya, heran sekali, tak punyakah sedikit uang? Selalu bunga, bunga dan bunga yang kalian kirim. Kungkung sudah tidak enak, terlalu sering menumpang makan Sukkung-mu.”

“Aku tak punya cukup uang untuk dibakar.”

“Kungkung tidak sedang bertanya kepadamu, Moi.”

Hampir pukul satu dini hari. Ia menggulung rambut panjangnya ke atas. Turun dari ranjang, berjalan ke dapur. Menuang segelas air putih dan mereguknya, kemudian kembali ke kamar. Kembali tidur dengan tenang.

“Aku sudah bilang kepada Kieu-kiu-mu agar kali ini Kungkung-mu dibakarkan Nyunko. Disuguhi ayam rebus, kue-kue kecil, buah-buahan, teh, dan arak putih. Bagaimanapun Kungkung-mu semasa hidup suka makan daging. Ini bulan tujuh kalender lunar. Bulan di mana orang-orang sembahyang kubur. Menghormati leluhur. Kali ini kapu harus membakar ‘uang’ untuknya. Tak mesti harus datang ke makamnya. Kau bisa membakar ‘uang’ itu di langit terbuka, dengan menyebut nama Kungkung-mu. Katakan kepadanya ‘uang’ itu dariku”. Mak memberi wejangan panjang lebar, menjelaskan sesuatu yang sesungguhnya lama ia ketahui. Orang tua di mana pun memang selalu cerewet. “Keluarkan simpananmu untuk membeli uang sembahyang. Kau pasti punya tabungan. Aku yakin Kungkung-mu meninggalkan sedikit warisan.”

“Bukankan sudah cukup dua kali setahun aku membawakan bunga dan makanan...!”

“He, tahu apa kau? Dengar: aku sedang tertimpa masalah! Hanya Kungkung-mu yang bisa menolong. Harus segera disempurnakan jalannya. Dia sekarang yang lebih dekat dengan Dewa Bumi. Apa kau senang kalau Mak mati karena tak punya jalan rezeki?”

“Kapan aku harus membakar semua itu?” demi kesopanan ia harus mengalah dan pura-pura bertanya. Mak akan senang jika dianggap lebih tahu.

“Lusa adalah Hari Raya Hantu”

“Aku sudah tahu”

“Kau dengar dulu, heh,” suara di seberang berhenti. “Kenapa sih kau selalu mencela? Besok adalah bulan tujuh tanggal tujuh. Kau bakarlah ‘uang’ agak banyak untuk mendoakan roh Kungkung-mu, dan juga roh-roh lain yang mati penasaran. Ingat, kau jangan tidur awal dimalam itu.”

“Kenapa tidak Mak saja yang membakar uang sembahyang di sana?” ia terpaksa juga menyela.

“Astaga,” terdiam sejenak. Tiba-tiba menjadi sunyi. Ia tahu Mak tengah menahan marah, dibayangkannya Mak menarik nafas panjang, mungkin juga gemetar. Diam-diam ia tersenyum.

“Anak bodoh! Kalau aku yang membakar uang itu, Kungkung-mu tak akan suka. Jangan lupa, katakan bahwa itu uang dariku!”

                                                                                *

Ia meletakan gagang telepon. Sudah 20 tahun Mak kabur ke Taiwan bersama seorang lelaki. Dulu ia belum begitu paham kenapa ayahnya mendadak mati (dengan mulut berbusa, dan ia menyaksikan sendiri bagaimana lelaki itu sekarat di ruang depan), lalu Kungkung yang selalu marah kalau ia bertanya, “Makmu seorang pelacur! Lupakan saja, Moi, Lupakan.”

Ia benar-benar kecil, dan terlalu sulit memahami dunia yang begitu luas. Tahun tahun berganti, dan samar hanya sedikit pemahaman yang datang sepotong-sepotong. Ada selentingan kabar bahwa Maknya menjadi babu, selentingan kabar Maknya bukan babu tapi istri seorang pegawai, selentingan kabar Maknya selalu disiksa karena bersuamikan bukan pegawai tapi bandar judi, selentingan kabar Maknya sudah mati, kemudian kabar lainnya mengatakan Maknya masih hidup dan menjadi pelayan saudagar. Puluhan, bahkan ratusan gadis-gadis China pergi untuk menghirup udara baru, di negeri baru, meninggalkan kutukan pada kota ini yang tidak memberi keberuntungan. Puluhan di antaranya akan kembali bertahun-tahun kemudian dengan gemerincing emas di tangan, sedang ratusan lainnya hilang tak tentu rimbanya. Dari mereka yang datang itulah, berita tentang kerabat, tetangga, atau kenalan dihembuskan saling bertumpang tindih. Termasuk kabar tentang Mak terakhir yang bernasib buruk.

Lelaki-lelaki Taiwan memang selalu datang dengan legenda yang tetap tak berubah bahwa di negeri para Dewa dan leluhur yang menuliskan garis tangan rezeki dan keberuntungan, mereka telah ditakdirkan untuk menjadi jodoh terbaik bagi gadis-gadis di kota ini. Gadis-gadis dengan gurat pekerja keras dan penuh pengabdian! Hampir semua orang percaya. Kecuali Kungkung-nya, yang selalu berkata dengan kejam, “Ingat Moi, aku tidak akan pernah memaafkan kebohongan orang yang telah menjerat Makmu untuk kabur bersama lelaki laknat dari Taiwan!”

Kata-kata itulah yang menahan dirinya pergi, ketika umur belasan satu persatu kawannya hilang. Lalu Kungkung yang ia cintai mati. Lalu kabar dari Maknya kembali datang lewat dering telepon, dan sebuah suara dari seberang yang selama tahun-tahun terakhir ini membuatnya benci akan tetapi sekaligus menyimpan baru kerinduan yang terperi. Kerinduan yang sakit dan putus asa.

Ia meletakan gagang telepon, dan duduk di kursi dengan diam.

“Moi, kamu mau melihat hantu?” ia ingat pertanyaan Kungkung-nya semasa hidup dulu.

“Caranya?”

“Kamu berjongkok memanggul tampah di kepala, dipinggir jalan tak jauh dari kuburan. Jangan lupa bakar kertas-kertas sembahyang, sediakan daun teh kering, serta tiga atau lima cangkir arak putih. Kamu tunggui mereka lewat. Ingat baik-baik, apa pun yang terlihat mata, kamu jangan menjerit atau bergeming. Hanya boleh diam sampai pesta mereka usai!”

Ia memutuskan menziarahi kuburan Kungkung-nya. Hari itu masih subuh bulan tujuh tanggal tujuh. Ia membawa sehelai ketas kuning lebar yang sudah ditetesi darah ayam, yang kemudian ia hamparkan di atas nisan. Segala diletakannya sebongkah batu di atasnya agar kertas itu tidak melayang tertiup angin. Agar Kungkung-nya bisa menikmati sesajian yang ia bawa dengan tenang, maka ia memasang sepasang lilin merah. Konon, Dewa Penjaga Kuburan yang menjaga kuburan Kungkung-nya akan merasa senang dengan lilin merah yang menyala. Ia menuangkan tigas gelas teh, tigas gelas arak putih, menaruh kue apam merah di piring dan mempersembahkannya di depan patung Dewa Penjaga Kubur. Sebungkus daun teh kering, sebungkus klotok, lalu menyalakan tiga batang hio dan memberi penghormatan khusuk sebelum menancapkan ke tanah.

Lalu keluarlah seekor ayam jantan rebus, sepotong tahu rebus, sebiji telur ayam rebus. Menatanya di atas piring yang sudah disiapkan, bersama tiga jenis buah yang disusun dengan rapi. Tak lupa merapikan kue-kue kecil, tiga gelas teh serta tiga gelas arak.

“Kung, bangunlah untuk makan,” ia berbicara sendiri dengan menganggukan kepala tiga kali dengan tiga batang hio ditangan. Ditancapkannya tiga batang hio itu di depan nisan, kemudian duduk diam sambil menunggu. Setengah jam kemudian ia yakin Kungkung-nya telah menikmati semua sajian yang dibawa. Pelan-pelan dibakarnya kertas-kertas sembahyang yang telah digulung.

                                                                                *

Langit cerah dan bersih. Kota berkemas, orang-orang berduyun-duyun menuju tanah-tanah pinggiran, menuju langit lapang terbuka. Malam ini adalah perayaan Hari Hantu dan roh-roh leluhur akan turun berpesta bersama seluruh kerabat, kenalan, saudara serta sekian keturunan yang masih hidup. Inilah malam penuh berkah, ia telah menyiapkan sedikit simpanannya untuk keperluan uang sembahyang. Siapa tahu jalan rezeki bagi Maknya terbuka dan Mak bisa pulang. Ia berjalan berdesak di antara kerumunan orang-orang yang juga telah menyiapkan perbekalan yang sama.

Orang-orang kaya dengan pakaian wangi warna-wani yang akan membakar uang-uang mereka, lengkap beserta bungkusan-bungkusan beras dan gula yang akan dilempar ke tengah kerumunan dan menjadi keberuntungan bagi orang-orang miskin. Ada keyakinan bahwa beras dan gula dari orang kaya yang diperebutkan di Hari Raya Hantu akan menjadi jimat jalan rezeki bagi orang miskin, sama dengan jimat jalan rezeki bagi mereka yang sanggup membakar ‘uang’ di langit terbuka. Semakin banyak orang membakar ‘uang’ lalu melempar beras dan gula, akan semakin kaya mereka. Semakin banyak orang miskin mendapat beras dan gula, semakin beruntung. Inilah hari di mana orang paling kaya dan orang paling miskin bersatu, dan lihatlah: di langit para Dewa dan roh-roh leluhur telah menunggu dengan menyiapkan seluruh kebaikan.

Arima hio mengapung, orang-orang saling mendesak. Bau bakaran kertas mulai menyengat. Teriakan mulai terdengar: “Orang terkaya di kota ini telah melempar beras dan gula!”

Siapa tidak kenal Kim Sen? Orang terkaya dengan kepala mendongak yang tengah melemparkan gula dengan digjaya dari atas kursi yang ditandu. Seperti magnet raksasa, orang-orang berlarian mengepung, saling rebut saling sikut. Debu-debu mulai membumbung, teriakan perempuan, orang tua, anak-anak dan para lelali kekar yang mendorong dan menginjak siapa saja yang menghalangi. Barangkali para Dewa dan para leluhur akan serentak menghentikan pesta araknya di langit saat melihat di antara orang-orang yang terjengkang dengan menggenggam sebungkus gula adalah Kim Liung, orang kaya dari Utara. Atau mungkin saja para leluhur akan tertawa dan semakin mabuk saat diketahui bahwa di antara mereka yang pingsan memperebutkan beras adalah Aliong, alung, Aliung dan Along, para saudagar yang mengusai pertokoan di pelabuhan.

Ia yang terkepung dan tak ingin mati, memilih menjauh dari kerumunan. Melintas jalan-jalan sepi dan brelari menuju bukit. Melihat dari kejauhan, melihat ke atas langit, dan melihat betapa kota ini telah mengalami bencana dan keterkutukan yang panjang. Ia tiba-tiba ingat Maknya yang beitu ia benci tapi memendam kerinduan tak terperi. Ia tiba-tiba teringat kawan-kawannya yang satu-persatu hilang tak pernah kembali. Ia tiba-tiba rindu pada kakeknya yang telah lama mati. Tiba-tiba ia merasa sepi. Ia merasa putus asa.

Ia membakar uang sembahyangnya diam-diam. Sedikit pun ia tak pernah yakin, bahwa Maknya akan kembali pulang.

Singkawang 22 Oktober 2009.

***

Catatan:

Kungkung  : Kakek
Sukkung : adik lelaki dari kakek
Kiu-kiu : adik atau abang dari ibu.
Nyunko : kertas sembahyang bergambar bubur sangkar berwarna perak di tengah. Konon bertas itu adalah uang di dunia roh.
Klotok  : sejenis kerupuk berbentuk batangan pendek berwarna merah muda bertabur gula putih.

Diary Siti Salamah Azzahra





Kutipan Buku Lainnya