Apresiasi Puisi Diksi dengan Gaya Bahasa

Apresiasi Puisi Diksi dengan Gaya Bahasa

Oleh | Selasa, 13 Juni 2023 22:53 WIB | 907 Views 2023-06-13 22:53:45

Pendahuluan

Dewasa ini, kecenderungan orang semakin mengesampingkan pentingnya penggunaan bahasa, terutama dalam tata cara pemilihan kata atau diksi. Terkadang kita pun tidak mengetahui pentingnya penguasaan bahasa Indonesia yang baik dan yang benar, sehingga ketika kita berbahasa, baik lisan maupun tulisan, sering mengalami kesalahan dalam penggunaan kata, frasa, paragraf, dan wacana. 

Agar tercipta suatu komunikasi yang efektif dan efisien, pemahaman yang baik ihwal penggunaan diksi atau pemilihan kata dirasakan sangat penting, bahkan mungkin vital, terutama untuk menghindari kesalahpahaman dalam berkomunikasi. Diksi atau pilihan kata dalam praktik berbahasa sesungguhnya mempersoalkan kesanggupan sebuah kata dapat juga frasa atau kelompok kata untuk menimbulkan gagasan yang tepat pada imajinasi pembaca atau pendengarnya. Indonesia memiliki bermacam-macam suku bangsa dan bahasa. Hal itu juga disertai dengan bermacam-macam suku bangsa yang memiliki banyak bahasa yang digunakan dalam kehidupan sehari-hari. Bahasa yang digunakan juga memiliki karakter berbeda-beda sehingga penggunaan bahasa tersebut berfungsi sebagai sarana komunikasi dan identitas suatu masyarakat tersebut. 

 Dalam kehidupan bermasyarakat sering kita jumpai ketika seseorang berkomunikasi dengan pihak lain tetapi pihak lawan bicara kesulitan menangkap informasi dikarenakan pemilihan kata yang kurang tepat ataupun dikarenakan salah paham. Pemilihan kata yang tepat merupakan sarana pendukung dan penentu keberhasilan dalam berkomunikasi. Pilihan kata atau diksi bukan hanya soal pilih-memilih kata, melainkan lebih mencakup bagaimana efek kata tersebut terhadap makna dan informasi yang ingin disampaikan. Pemilihan kata tidak hanya digunakan dalam berkomunikasi namun juga digunakan dalam bahasa tulis (jurnalistik). Dalam bahasa tulis pilihan kata (diksi) mempengaruhi pembaca mengerti atau tidak dengan kata-kata yang kita pilih.  

Dalam makalah ini, penyusun berusaha menjelaskan mengenai diksi yang digunakan dalam kehidupan sehari-hari baik dalam segi makna dan relasi, gaya bahasa, ungkapan, kata kajian, dan kata popular. 

Pengertian Diksi

Diksi dalam artian yang pertama, merujuk pada pemilihan kata dan gaya ekspresi oleh  penyusun dan pembicara. Atinya yang kedua adalah enusiansi kata. Diksi juga merupakan seni bicara yang jelas sehingga dapat di pahami oleh pendengar. 

Pilihan kata atau diksi pada dasarnya adalah hasil dari upaya memilih kata tertentu untuk dipakai dalam kalimat, alenia, atau wacana. Pemilihan kata dapat dilakukan bila tersedia sejumlah kata yang artinya hampir sama atau bermiripan. Pemilihan kata bukanlah sekedar memilih kata yang tepat, melainkan juga memilih kata yang cocok. Cocok dalam arti sesuai dengan konteks di mana kata itu berada, dan maknanya tidak bertentangan dengan yang nilai rasa masyarakat pemakainya.  

Diksi adalah ketepatan pilihan kata. Penggunaan ketepatan pilihan kata dipengaruhi oleh kemampuan pengguna bahasa yang terkait dengan kemampuan mengetahui, memahami, menguasai, dan menggunakan sejumlah kosa kata secara aktif yang dapat mengungkapkan gagasan secara tepat sehingga mampu mengomunikasikannya secara efektif kepada pembaca atau pendengarnya. Pengertian diksi atau pilihan kata jauh lebih luas dari apa yang di pantulkan oleh jalinan kata-kata itu. Istilah ini bukan saja di pergunakan untuk menyatakan kata-kata mana yang di pakai untuk mengungkapkan suatu ide atau gagasan tetapi juga meliputi fraseeologi, gaya bahasa yang di ungkapkan. Fraseologi mencakup pesoalan kata-kata pengelompokan atau susunannya atau yang menyangkut cara-cara yang khusus berbentuk ungkapan-ungkapan. 

Selain itu diksi menurut pendapat lain adalah ketepatan pemilihan kata di pengaruhi oleh kemampuan pangguna bahasa yang terkait dengan kemampuan yang memahami, mengetahui, menguasai dan penggunaan kata aktif dan efektif kepada pembaca dan pendengarnya. 

Pembagian Makna Dalam Pemilihan Kata

  1. Membedakan secara cermat denotasi dan konotasi. 

Makna denotatif adalah makna dalam alam wajar secara eksplisit. Makna wajar ini adalah makna yang sesuai dengan apa adanya . Denotatif adalah suatu pengertian yang dikandung dalam sebuah kata secara objektif. Makna denotatif (denotasi) lazim disebut 1) makna konseptual yaitu makna yang sesuai dengan hasil observasi (pengamatan) menurut penglihatan, penciuman, pendengaran, atau pengalaman yang berhubungan dengan informasi (data) faktual dan objektif. 2) makna sebenarnya, umpamanya, kata kursi yaitu tempat duduk yang berkaki empat (makna sebenarnya). 3) makna lugas yaitu makna apa adanya, lugu, polos, makna sebenarnya. Contohnya ada terdapat dalam  Wanita dan perempuan secara konseptual sama ; gadis dan perawan secara denotatif sama maknanya, kumpulan, rombongan, gerombolan, secara konseptual sama maknanya. Istri dan bini secara konseptual sama. 

Makna konotasi adalah makna asosiatif, makna yang timbul sebagai akibat dari sikap social, dan kriteria tambahan yang dikenakan pada sebuah makna konseptual . Makna konotatif atau konotasi berarti makna kias, bukan makna sebenarnya. Sebuah kata dapat berbeda dari satu masyakat ke masyarakat lain, sesuai dengan pandangan hidup dan norma masyarakat tersebut. Makna konotasi juga dapat berubah dari waktu ke waktu. Dalam kalimat“ Megawati  dan Susilo Bambag Yudhoyono berebut kursi presiden.” Kalimat tersebut tidak menunjukan makna bahwa Megawati dan Susilo Bambang Yudhoyono tarik-menarik kursi Karena kata kursi berarti jabatan presiden. Makna konotatif dan denotatif brhubungan erat denagan kebutuhan pemakaian bahasa. Makna denotatif ialah arti harfiah suatu kata tanpa ada suatu makna yang menyertainya, sedangkan makna konotatif adalah makna yang mempunyai tautan pikiran, perasaan, dan lain-lain yang menimbulkan nilai rasa tertentu. Dengan kata lain, makna konotatif lebih bersifat pribadi dan khusus, sedangkan denotatif maknanya umum.Kalimat dibawah ini menunjukanhal itu 

  • Dia adalah wanita manis (konotatif) 

  • Dia adalah wanita cantik (denotatif) 

Kata cantik lebih umum daripada kata manis. Kata cantik akan memberikan gambaran umum seorang wanita. Akan tetapi, dalam kata manis terkandung suatu maksud yang bersifat Nilai kata-kata itu dapat bersifat baik dan dapat pula bersifat jelek. Kata-kata yang berkonotasi jelek dapat kita sebutkan seperti kata tolol (lebih jelek daripada bodoh ), mampus (lebih jelek daripada mati), dan gubuk (lebih jelek daripada rumah). Di pahak lain, kata-kata itu dapat memngandung arti kiasaan yang terjadi dari makna denotative referen lain. Makna yang dikenakan kepada kata itu dengan sendirinya akan ganda sehingga kontekslah yang lebih banyak berperan dalam hal ini. Perhatikan contoh dibawah ini. 

Sejak dua tahun yang lalu ia membanting tulang untuk memperoleh kepercayaan masyarakat. 

Kata membanting tulang (yang mengambil suatu denotatif kata pekerjaan membanting sebuah tulang) mengandung makna “bekerja keras” yang mengandung sebuah kiasan. Kata membanting tulang dapat kita masukan dalam golongan kata yang bermakna konotatif. 

Kata-kata yang dipakai secara kiasan pada suatu kesempatan penyampaian seperti ini disebut idiom atau ungkapan. Semua bentuk idiom atau ungkapan tergolong dalam dalam kata yang bermakna konotasi.  

  1. Makna umum dan makna khusus 

Kata umum dibedakan dari kata khusus berdasarkan ruang lingkupnya. Makin luas ruang lingkup suatu kata, makin umum sifatnya. Sebaliknya, mana kata menjadi sempit ruang lingkupnya makin khusus sifatnya. Makin umum suatu kata makin besar kemungkinan terjadi salah paham atau perbedaan tafsiran. Sebaliknya, makin khusus, makin sempit ruang lingkupnya, makin sedikt terjadi salah paham. Dengan kata lain, semakin khusus makna kata yang dipakai, pilihan kata semakin cepat. 

Perhatikan contoh berikut: 

              A. Kata umum: melihat. 

            Kata khusus: melotot, melirik, mengintip, menatap, memandang, 

             B. Kata umum: berjalan. 

            Kata khusus: tertatih-tatih, ngesot, terseok-seok, langkah tegap. 

             C. Kata umum: jatuh. 

            Katakhusus:terjengkang,tergelincir,tersungkur,terjerembab,    terperosok,terjungkal. 

  1. Kata Konkret dan Abstrak 

Kata yang acuannya semakin mudah dicerap pancaindra disebut kata konkret , seperti meja, rumah, mobil, dan lain-lain. Jika suatu kata tidak mudah dicerap panca indra maka kata itu disebut kata abstrak , seperti gagasan dan saran.Kata abstrak digunakan untuk mengungkapkan gagasan rumit. Kata abstrak mampu membedakan secara halus gagasan yang bersifat teknis dan khusus. Akan tetapi jika dihambur-hamburkan dalam suatu karangan, karangan itu dapat menjadi samar dan tidak cermat. 

  1. Sinonim 

Sinonim adalah dua kata atau lebih yang pada asasnya mempunyai makna yang sama, tetapi bentuknya berlainan . Sinonim ialah persamaan makna kata . Artinya, dua kata atau lebih yang berbeda bentuk ejaan, dan pengucapannya. 

  Contoh: 

                1) Agung, besar, raya 

                2) Mati, mangkat, wafat, dan meninggal. 

                3) Cahaya, sinar 

                4) Ilmu, pengetahuan 

                5) Bodoh, tolol dan lain-lain 

  1. Pembentukan Kata 

Ada dua cara pembentukan kata, yaitu dari dalam dan luar bahasa Indonesia. Dari dalam bahasa Indonesia terbentuk kosakata baru dengan dasar kata yang sudah ada, sedangkan dari luar terbentuk kata baru melalui unsur serapan. Dari dalam bahasa Indonesia terbentuk kata baru, misalnya: tata buku, tata bahasa, daya tahan, dan lain-lain. Dari luar bahasa Indonesia terbentuk kata-kata melalui pungutan kata, misalnya: bank, valuta, dan lain-lain. 

  1. Perubahan Makna 

Bahasa berkembang sesuai dengan tuntutan masyarakat pemakainya, pengembangan diksi tejadi pada kata. Namun, hal ini berpengaruh pada penyusunan kalimat, paragraf, dan wacana. Pengembangan tersebut dilakukan memenuhi kebutuhan komunikasi. Komunikasi kreatif berdampak pada perkembangan diksi, berupa penambahan atau pengurangan kuantitas maupun kualitasnya. Selain itu ,bahasa berkembang dengan sesuai kualitas pemikiran pemakainya. Perkembangan dapat menimbulkan perubahan yang mencakup perluasan, penyempitan, pembatasan, pelemahan, pengaburan, dan penggeseran makna. 

Faktor penyebab perubahan makna: 

1) Kebahasaan 

Meliputi perubahan intonasi, bentuk kata, dan bentuk kalimat. 

a) Perubahan intonasi adalah perubahan makna yang diakibatkan oleh perubahan nada, irama, dan tekanan.  

Contoh dalam kalimat. 

  • Paman teman saya belum nikah 

  • Paman, teman saya belum nikah 

  • Paman, teman, saya belum nikah 

  • Paman, teman, saya, belum nikah 

b) Perubahan struktur frasa: kaleng susu (kaleng bekas tempat susu) susu kaleng (susu yang dikemas dalam kaleng), dokter anak (dokter spesialis anak), anak dokter (aanak yang dilahirkan oleh orang tua yang menjadi dokter). 

c) Perubahan bentuk kata adalah perubahan makna yang ditimbulkan oleh perubahan bentuk. Contoh; tua (tidak muda) jika ditambah awalan ke- maka menjadi ketua, makna berubah menjadi pemimpin. 

d) Kalimat akan berubah makna jika struktur kalimatnya berubah. Perhatikan kalimat berikut: 

  • Karena sudah diketahui sebelumnya, satpam segera dapat meringkus penjahat itu.  

  • Kalimat diatas, salah kesejajaran bentuk kata diketahui seharusnya mengetahui. 

  • Karena mengetahui sebelumnya, satpam segera dapat meringkus penjahat itu.  

  • Pencuri itu segera diringkus oleh satpam karena sudah diketahui sebelumnya. 

2) Kesejarahan 

Kata perempuan pada zaman penjajahan Jepang digunakan untuk untuk menyebut perempuan penghibur. Orang menggantinya dengan kata wanita . Kini setelah orang melupakan peristiwa tersebut menggunakan nya kembali, dengan pertimbangan, kata perempuan lebih mulia dibandingkan wanita. 

3) Kesosialan 

Masalah kesosialan berpengaruh terhadap perubahan makna.  

Contoh; petani kaya disebut petani berdasi, militer disebut baju hijau. 

4) kejiwaan 
Perubahan makna Karena faktor kejiwaan ditimbulkan oleh pertimbangan: rasa takut, kehalusan ekspresi, dan kesopanan. Perhatikan contoh berikut ini: 

a) Tabu: 

  • Pelacur disebut tunasusila 

  • Germo disebut hidung belang 

b) Kehalusan: 

  • Bodoh disebut kurang pandai 

  • Malas disebut kurang panadi 

c) Kesopanan: 

  • Ke kamar mandi disebut kebelakang 

  • Gagal disebut kurang berhasil. 

5) Bahasa Asing 

Perubahan makna karena faktor bahasa asing, misalnya kata tempat orang terhormat diganti dengan VIP. 

6) Kata Baru 

Kreativitas pemakai bahasa berkembang terus sesuai dengan kebutuhannya. Kebutuhan tersebut, memerlukan bahasa sebagai alat ekspresi dan komunikasi. Pethatikan penggunaan kata: jaringan, kinerja,dan justifikasi.  

  • Jaringan kerja untuk menggantikan network 

  • Justifikasi untuk menggantikan pembenaran 

  • Kinerja untuk menggantikan performance. 

7. Homonim, Homofon, Homograf  

      a. Homonim 

Homo artinya sama, nym berarti nama, jdi homonim adalah sama nama, sama bunyi tetapi beda makna, contoh : bandar sama dengan pelabuhan, dan dan pemegang uang dalam perjudian. 

      b. Homofon 

 Bunyi atau suara yang mempunyai sama, berbeda tulisan dan berbeda makna contoh :  

Bank : tempat menyimpan uang  

Bang : panggilan untuk kakak laki-laki 

     c. Homograf  

Sama tulisan, berbeda bunyi dan berbeda makna, contoh :  

Ular kobra itu bisanya mematikan  

Aku bisa memastikan ayah tidak akan marah jika aku telat pulang karena latihan 

  1. Kesalahan, pemakaian gabungan kata Perhatikan contoh pemakaian di mana, yang mana, daripada yang salah dalam kalimat ini. Dalam rapat yang mana dihadiri oleh para ketua RT dan Rw Demikian tadi sambutan Pak Lurah di mana beliau telah menghimbau kita untuk lebih                  

Kalimat1 (satu) kerap kita dengar dalam aktivitas bermasyarakat kalau kita amati. Terdapat dua kesalahan dalam pemakaain bentuk gabungan itu, kesalahan pertama, dalam sebagian kalimat itu terdapat kata yang berlebih atau mubazir yang mengakibatkan terjadinya polusi bahasa. Kata mana dalam kalimat pertama tidak diperlukan, cobalah baca kalimat pertama tanpa kata mana, jadi bunyinya berubah seperti ini. Dalam rapat yang dihadiri oleh para ketua RT dan Rw. 

Kalimat 2 (dua), pada bagian besar kalimat ini terjadi salah pakai bentuk gabung di mana tidak boleh dipakai dalam bentuk kalimat. Fungsi di mana dan yang mana bukan sebagai penghubung klausa-klausa, baik dalam sebuah kalimat maupun penghubung antar kalimat. Kalimat ini harus dipecah menjadi dua: 

  • Demikian tadi sambutan Pa Lurah 
  • Harus menghimbou kita agar rajin dan tida malas  
  • Ada pun kalimat terakhir ini sama seperti kalimat pertama 

2) Kesalahan Pemakaian Gabungan Kata dengan, di, dan ke 

3) Pemakaian kata dengan dalam kalimat terutama ragam lisan, sering tidak tepat, perhatikan contoh yang salah berikut ini. 

            a) Sampaikan salam saya dengan Dona 

            b) Mari kita tanyakan langsung dengan dokter ahlinya. 

            Kata dengan pada kalimat diatas harus diganti dengan kepada, jika tidak kepada siap salam ditujukan. Kata dengan tidak cocok dipakai untuk kalimat diatas karena dengan dapat berarti bersama.Senada dengan kekeliruan pemakaian kata sambung dengan, pemakaian yang keliru juga sering terjadi untuk kata depan di dan ke yang seharusnya diisi oleh kata pada dan kepada. Kata depan di dan ke harus diikuti oleh tempat, waktu, sedangkan kepada harus diikuti nama/jabatan orang atau kata ganti orang. Contoh: 

           1) Buku agendaku tertinggal di rumah Andi 

           2) Jangan menoleh ke kiri 

           3) Permohonan cuti diajukan kepada direktur 

           4) Kesalahan Pemakaian Kata berbahagia 

Dalam pertemuan formal ditengah masyarakat, kita sering mendengar kata berbahagia     dipakai secara keliru oleh pembawa acara dan juga oleh pembicara lain. Umumnya kata berbahagia itu dimunculkan pada bagian awal suatu acara ketika pembicara menyapa hadirin, seperti contoh yang keliru berikut ini. 

            a) Selamat malam dan selamat dating ditempat yang berbahagia ini 

            b) Pada kesempatan yang berbahagia ini, kami mengajak hadirin untuk... 

Mengapa pemakaian dalam kalimat 1 dan 2 dikatakan keliru, karena berbahagia bukan kata sifat. Jika pada kata berbahagia diganti kata sifat misalnya, aman ,indah, bersih, tentu saja kalimatnya benar. 

Majas atau gaya bahasa adalah bahasa indah yang dipergunakan untuk meningkatkan kesan dengan jalan memperkenalkan serta memperbandingkan suatu benda dengan benda lain atau hal lain yang lebih umum. Menurut Prof. Dr. H. G. Tarigan majas ialah cara mengungkapkan pikiran melalui bahasa secara khas yang memperlihatkan jiwa dan kepribadian penyusun. Sedangkan menurut Goris Keraf, suatu majas dikatakan baik bila mengandung tiga dasar, yaitu kejujuran, sopan-santun dan menarik. Majas juga diartikan sebagai bahasa kias, bahasa yang dipakai untuk menciptakan suatu efek tertentu. Majas nerupakan bentuk retoris yang penggunaanya untuk memunculkan kesan imajinatif dari pendengar maupun pembaca. 

Penggolongan Majas

A. Majas Perbandingan 

Majas perbandingan terdiri dari 4 jenis, yaitu: 

  1. Majas Perumpamaan 

Perumpamaan adalah perbandingan dua hal yang pada hakikatnya berkaitan dan yang sengaja dianggap sama.Contoh: 

  • Bak mencari kutu dalam ijuk. (Melakukan sesuatu yang mustahil) 

  • Bagai kambing dihalau ke air. (Hal orang yang enggan disuruh atau diajak mengerjakan sesuatu) 

  • Semanis madu. 

  • Sedalam laut. 

  • Secantik bidadari. 

  • Sesegar udara pagi. 

   Perumpamaan secara eksplisit dinyatakan dengan kata seperti, bak, bagai, ibarat, penaka, sepantun, laksana, umpama. 

  1. Metafora 

Metafora adalah perbandingan yang implisit. Jadi, tanpa kata pembanding di antara dua hal yang berbeda. Dengan kata lain, metafora yaitu majas yang berupa kiasan persamaan antara benda yang diganti namanya dengan benda yang menggantinya.Contoh: 

  • Kapan Anda bertemu dengan lintah darat itu  

  • Siti Mutmainah adalah kembang desa di sini. 

  • Kelaparan masih tetap menghantui rakyat Etiopia. 

  • Nina tangkai hati ibu. 

3.Personifikasi  

Personifikasi adalah majas perbandingan yang menuliskan benda-benda mati menjadi seolah-olah hidup, dapat berbuat, atau bergerak.Contoh: 

  • Peluru mengoyak-ngoyak dada musuh. 

  • Banjir besar telah menelan seluruh harta penduduk. 

  • Matahari mulai merangkak ke atas. 

  • Kabut tebal menyelimuti desa kami. 

4. Alegori 

Alegori pada umumnya menganding sifat-sifat moral manusia. 

Contoh: 

  • Mendayung bahtera rumah tangga. (Perbandingan yang utuh bagi seseorang dalam rumah tangga) 

B. Majas Pertentangan 

Majas pertentangan terbagi menjadi 7 macam, yaitu:

  1. Hiperbola
  2. Litotes
  3. Ironi
  4. Antonomasia
  5. Oksimoron
  6. Paradoks
  7. Kontradiksio
  1. Hiperbola adalah majas yang menyatakan sesuatu dengan berlebih-lebihan.
  2.  
  • Keringatnya menganak sungai.
  • Suaranya menggelegar membelah angkasa.

      2. Litotes adalah majas yang menyatakan kebalikan daripada hiperbola, yaitu menyatakan sesuatu dengan memperkecil atau memperhalus keadaan. Majas litotes disebut juga hiperbola negatif.

Contoh:

  • Tapi, maaf kami tak dapat menyediakan apa-apa. Sekadar air untuk membasahi tenggorokan saja yang ada.
  • Tentu saja karangan ini masih jauh dari sempurna. Oleh karena itu, semua kritik dan saran akan saya terima dengan senang hati

3. Ironi adalah majas yang menyatakan makna yang berlawanan atau bertentangan, dengan maksud menyindir. Ironi disebut juga majas sindiran.

Contoh:

  • Bagus benar ucapanmu itu, sehingga menyakitkan hati.
  • Kau memang pandai, mengerjakan soal itu tak satupun ada yang betul.

4. Antonomasia adalah penyebutan terhadap seseorang berdasarkan ciri khusus yang dimilikinya.

Contoh:

  • Sssssttt, lihat! Si cerewet datang. Kalian tidak perlu bertanya.
  • Macam-macam! Biar si gendut saja nanti yang menghadapinya.
  • Kemarin saya lihat si Kacamata hitam keluar bersama-sama dengan si Kribo. Benar tidak

5. Oksimoron adalah pengungkapan yang mengandung pendirian/pendapat terhadap sesuatu yang mengandung hal-hal yang bertentangan.

Contoh:

  • Memang benar musyawarah itu merupakan wadah untuk mencari kesepakatan. Namun tidak jarang menjadi wadah pertentangan para pesertanya.
  • Siaran radio dapat dipakai untuk sarana persatuan dan kesatuan, tetapi dapat juga sebagai alat untuk memecah belah suatu kelompok masyarakat atau ubangsa.
  • Olahraga mendaki bukit memang menarik, tetapi juga sangat berbahaya.

6. Paradok adalah pengungkapan terhadap suatu kenyataan yang seolah-olah bertentangan, tetapi mengandung kebenaran.

Contoh:

  • Memang hidupnya mewah, mempunyai mobil, rumahnya besar, tetapi mereka tidak berbahagia. Tidak tahu mengapa, mungkin karena belum mempunyai anak.
  • Walaupun ia tinggal di kota besar, kota metropolitan, hiburan ada di mana-mana, ia bercerita padaku katanya kesepian.

8.Kontradiksio adalah pengungkapan yang memperlihatkan pertentangan dengan yang sudah dikatakan lebih dulu sebagai pengecualian.Contoh:

  • Sebenarnya semua saudaranya, yang dulu-dulu pandai, hanya dia sendiri yang bodoh. Mungkin saja karena malasnya.
  • Malam itu gelap gulita, tanpa kerlip kunang-kunang yang sebentar tampak dan sebentar hilang.
  •  

Majas pertautan dibedakan menjadi:

  1. Metonimia
  2. Sinekdok, terdiri atas:
    • Pars pro toto
    • Totem pro parte
  3. Alusio
  4. Eufemisme
  1. Metonimia

Metonimia adalah majas yang memakai nama ciri atau nama hal yang ditautkan dengan orang, barang atau hal, sesuai penggantinya.Contoh:

  • Ayah suka mengisap gudang garam. (Maksudnya rokok)
  • Si Jangkung dipakai sebagai sebagai pengganti orang yang mempunyai ciri jangkung.

2. Sinekdok

Sinekdok adalah majas yang menyebutkan nama bagian sebagai pengganti     nama keseluruhan atau sebaliknya.Contoh:

  • Sudah seminggu ini Iwan tidak tampak batang hidungnya. (Padahal yang dimaksud bukan hanya batang hidung)
  • Indonesia berhasil memboyong kembali piala Thomas. (Padahal yang berhasil hanya satu regu bulu tangkis)
  1. Pars pro toto adalah penyebutan sebagian untuk maksud keseluruhan. Contoh:
    • Jauh-jauh telah kelihatan berpuluh-puluh layar di sekitar pelabuhan itu.
    • Selama ini kemana saja kau Sudah lama tak nampak batang hidungmu. Nenek selalu menanyakan kau.
    • Ia harus bekerja keras sejak pagi hingga sore karena banyak mulut yang harus disuapi.
    • Kita akan mengadakan selamatan sebagai rasa syukur karena kita naik kelas semua. Untuk itu biaya kita tanggung bersama tiap kepala dikenakan iuran sebesar Rp 1.500,00
  2. Totem pro parte adalah majas penyebutan keseluruhan untuk maksud sebagian saja. Contoh:
  3. Dalam musim kompetisi yang lalu, kita belum apa-apa. Tetapi dalam tahun ini, sekolah kita harus tampil sebagai juara satu.
  4. Dalam pertandingan musim lalu, Indonesia dapat meraih medali emas.
  5. Alusio

Alusio adalah majas yang menunjuk secara tidak langsung ke suatu peristiwa atau hal dengan menggunakan peribahasa yang sudah umum ataupun mempergunakan sampiran pantun yang isinya sudah dimaklumi. Majas ini disebut juga majas kilatan.Contoh:

  • Menggantang asap saja kerjamu sejak tadi. (Membual/beromong-omong)
  • Ah, kau ni memang tua-tua keladi. (Maksudnya makin tua makin menjadi)

4. Eufemisme

       Eufemisme adalah majas kiasan halus sebagai pengganti ungkapan yang terasa kasar dan tidak menyenangkan. Eufemisme digunakan untuk menghindarkan diri dari sesuatu yang dianggap tabu atau menggantikan kata lain dengan maksud bersopan santun.

Contoh:

  • Orang itu memang bertukar akal. (Pengganti gila)
  • Kalau dalam hutan jangan menyebut-nyebut nenek. (Pengganti harimau)
  • Pemerintah telah mengadakan penyesuaian harga BBM. (Pengganti menaikkan)

D. Majas Perulangan

Contoh:

Yang kaya merasa dirinya miskin, sedangkan yang miskin merasa dirinya kaya.

Gaya Bahasa Berdasarkan Nada

Gaya bahasa berdasarkan nada yang dihasilkan pilihan kata ini ada tiga macam, yaitu:

1.    Gaya bahasa bernada rendah (gaya sederhana) menghasilkan ekspresi pesan yang mudah dipahami oleh berbagai lapisan pembaca, misalnya dalam buku-buku pelajaran, penyajian fakta, dan pembuktian.

2.    Gaya bahasa bernada menengah, rangkaian kata yang disusun berdasarkan kaidah sintaksis dengan menimbulkan suasana damai dan kesejukan, misalnya: dalamseminar, kekeluargaan, dan kesopanan.

3.    Gaya bahasa bernada tinggi mengekspresikan maksud degnan penuh tenaga, menggunakan pilihan kata yang penug vitalitas, energi, dan kebenaran universal. Gaya ini menggunakan kata-kata yang penuh keagungan dan kemuliaan yang dapat menghanyutkan emosi pembaca dan pendengarnya. Gaya ini sering digunakan untuk  menggerakkan massa dalam jumlah yang sangat banyak.



    Referensi / Daftar Pustaka


    Arifin, Zaenal, dkk. 1991. Cermat Berbahasa Indonesia. Jakarta: PT Mediyatama Sarana Perkasa 

    Rahardi, Kunjana. 2010. Bahasa Indonesia untuk Perguruan Tinggi. Jakarta: Erlangga. 

    Sitasi/Citation/Jadikan Daftar Pustaka Artikel Ini:
    Azzahra, I.S.S. (2023).Apresiasi Puisi Diksi dengan Gaya Bahasa. Pustaka, pp.27. Retrieved from https://www.salamahazzahra.com/pustaka/makalah-bahasa-indonesia/27/apresiasi-puisi-diksi-dengan-gaya-bahasa/

    Baca Full Text (PDF) Diary Siti Salamah Azzahra






    Makalah Bahasa Indonesia Lainnya
    Penulisan Pengutipan dan Daftar Pustaka Menurut American Psychological Association (APA) dalam Karya Tulis Ilmiah
    Selasa, 06 Juni 2023 04:22 WIB
    Penulisan Pengutipan dan Daftar Pustaka Menurut American Psychological Association (APA) dalam Karya Tulis Ilmiah
    Tuntutan seseorang yang berkelut di bidang pendidikan khususnya adalah mampu menciptakan karya tulis ilmiah dengan baik. Tuntutan tersebut dapat berupa tuntutan tugas maupun yang hendak melakukan penelitian. Di dalam membuat sebuah karya ilmiah, kita diharuskan untuk tidak menjiplak karya orang lain karena itu melanggar hak cipta.
    Teknik Membaca dengan Metode CATU, metode Surtabaku, dan metode SQ4R
    Rabu, 31 Mei 2023 15:39 WIB
    Teknik Membaca dengan Metode CATU, metode Surtabaku, dan metode SQ4R
    Ada beberapa teknik membaca untuk memudahkan pembaca dalam memahami sebuah bacaan salah satunya yaitu dengan metode CATU, metode Surtabaku, dan metode SQ4R. Pengajaran metode membaca dan sangat fleksibel penerapannya untuk gaya belajar apapun, yaitu dengan teknik membaca yang memiliki konteks yang hampir sama seperti teknik membaca dengan metode CATU, metode Surtabaku serta metode SQ4R
    Memirsa, Kemampuan Dasar Berbahasa Kelima
    Senin, 03 Oktober 2022 08:37 WIB
    Memirsa, Kemampuan Dasar Berbahasa Kelima
    Kemampuan berbahasa selama ini dipahami ada 4 buah yaitu menyimak, berbicara, membaca dan menulis. Namun, akhir-akhir ini ada kemampuan berbahasa dasar baru yang diperkenalkan yaitu memirsa
    Pembelajaran Kognitif, Gaya Pembelajaran Aktif di Kelas
    Minggu, 11 September 2022 20:01 WIB
    Pembelajaran Kognitif, Gaya Pembelajaran Aktif di Kelas
    Pendidikan sangat berpengaruh terhadap sumber daya manusia, pendidikan dibedakan menjadi dua yaitu formal dan nonformal. Dengan diadakanya pendidikan diusia dini diharapkan dapat membagun pengetahuan-pengetahuan sebagai dasar untuk memperoleh pengetahuan umum.
    Reduplikasi: Macam-Macam Pengulangan dan Proses Pengulangan
    Rabu, 07 September 2022 06:23 WIB
    Reduplikasi: Macam-Macam Pengulangan dan Proses Pengulangan
    Dalam bahasa Indonesia reduplikasi merupakan mekanisme yang penting dalam pembentukan kata, di samping afiksasi, komposisi dan akronimisasi. Lalu, meskipun reduplikasi terutama adalah masalah morfologi, masalah pembentukan kata, tetapi tampaknya ada juga reduplikasi yang menyangkut masalah fonologi, masalah sintaksis dan morfologis
    Peluang Technopreneur Melalui Pembelajaran Bahasa Indonesia  Melalui Kelas Online
    Kamis, 01 September 2022 07:27 WIB
    Peluang Technopreneur Melalui Pembelajaran Bahasa Indonesia Melalui Kelas Online
    Kelas online yang mempertemukan antara pengajar dan siswa ini juga menciptakan bisnis baru yang memungkinkan untuk pengajar memperoleh pendapatan tambahan dari kelas yang dibuat, pendapatan tersebut didapat dari siswa yang membayar untuk mengikuti kelas setelah dipotong oleh biaya operasional penyelenggara kelas online.