Inspirasi
Nasionalisme Kuda Pustaka

Nasionalisme Kuda Pustaka

Oleh | Jum'at, 30 September 2016 09:57 WIB | 883 Views

Sudah lebih dari setengah abad Indonesia merdeka, Indonesia yang kala itu hidup dalam penjajahan kini tak lagi dijajah dan dapat hidup dengan tenang. Tugas generasi sekarang adalah dengan mengisi kemerdekaan dengan berbagai kegiatan pengganti mengangkat senjata seperti para pejuang dulu. Mengisi kemerdekaan ternyata bukan hal yang mudah juga, gempuran dari berbagai penjuru tidak lagi bersifat fisik melainkan dengan berbagai cara sehingga ada yang mengatakan bahwa metode ini disebut sebagai penjajahan modern.
 

Terbukanya akses internet yang begitu masif dan bebasnya media-media menyampaikan berbagai konten menjadi tantangan yang nyata untuk bangsa, dulu para pejuang mengangkat senjata untuk menolak para penjajah masuk ke Nusantara, saat ini kita harus bersusah payah juga untuk menolak berbagai kultur asing yang tidak sesuai dengan adat istiadat dan kepribadian bangsa yang datang dari berbagai arah. Anak-anak sekarang lebih memilih untuk mengidolakan tokoh-tokoh fiksi dari luar ketimbang mengagumi sosok pahlawan perjuangan, semakin jarangnya kita menemukan kelompok anak-anak yang bermain permainan tradisional di halaman rumah atau dilapangan, kita juga semakin jarang menemukan anak-anak turun gotong royong membantu orang tua mereka dalam mengerjakan sesuatu, semuanya berganti menjadi kebiasaan baru semisal seharian duduk depan komputer untuk bermain game atau kegiatan lain yang sangat jauh dari kultur budaya Indonesia.  Kultur dan budaya asing itu secara perlahan telah masuk ke kehidupan generasi yang ada sehingga memudarkan rasa nasionalisme yang ada. Begitulah kalimat-kalimat yang sering kita dengar belakangan ini, namun apa sebenarnya arti dari nasionalisme itu sendiri?
 

Dari laman Wikipedia Nasionalisme dapat diartikan sebagai satu paham yang menciptakan dan mempertahankan kedaulatan sebuah negara dengan mewujudkan satu konsep identitas bersama untuk sekelompok manusia yang mempunyai tujuan atau cita-cita yang sama dalam mewujudkan kepentingan nasional, dan nasionalisme juga rasa ingin mempertahankan negaranya, baik dari internal maupun eksternal.

Pertanyaan kemudian muncul bagaimanakah wujud nasionalisme seharusnya yang ada saat ini, dari banyaknya penerjemahan arti nasionalisme banyak juga yang dilakukan oleh individu yang ada di negara ini, ada yang mengungkapkan rasa nasionalismenya dengan hanya menggunakan produk-produk yang diproduksi di dalam negeri, ada juga yang mengungkapkan rasa nasionalisme dengan berkoar-koar di media sosial ketika konflik terjadi antara Indonesia dengan negara tetangga semisal dengan malaysia, mereka menyuarakan Ganyang Malaysia disosial media, ada juga yang melakukan segala upaya untuk menunjukan kalau Indonesia itu kaya, Indonesia itu mampu dan segala hal positif tentang Indonesia dan juga berbagai cara lainnya dalam mengungkapkan rasa nasionalisme.

Teringat berita tentang Kuda Pustaka dari sebuah daerah di Jawa Tengah, Kuda Pustaka adalah seekor kuda putih bernama Luna, Namun Luna bukanlah kuda biasa. Bersama pengasuhnya bernama Ridwan Sururi, sejak Januari 2015 Luna berkeliling membawa buku-buku bacaan ke sejumlah kampung di lereng Gunung Slamet. Layaknya perpustakaan keliling, buku-buku itu dipinjamkan ke masyarakat dan anak-anak sekolah secara gratis.

Kisah perjuangan Ridwan bukanlah perjuangan yang mudah, dengan modal seadaanya dan pengetahuan seadanya Ridwan dengan kuda pustakanya memberikan inspirasi untuk banyak orang, memberikan pelayanan buku keliling ke setiap sekolah memberikan warna tersendiri untuk mendorong anak-anak mau membaca, dengan cara inilah Ridwan bisa mengenalkan apa itu Indonesia, bagaimana menjadi bangsa yang tanggung dan bagaimana menjadi generasi yang unggul melalui buku-buku yang dibawa dengan kudanya.

Berkaca dari kisah Ridwan dengan Kuda Pustakanya, saya berpendapat bahwa Nasionalisme itu banyak sekali bentuk dan wujudnya, setiap orang bisa bilang bahwa sayang paling nasionalis, setiap orang bisa bicara bahwa dirinya yang paling tau rasa nasionalisme, tetapi yang terpenting dari itu semua adalah wujud nyata dari nasionalismenya. Apa yang dilakukan ridwan adalah contohnya, tanpa omongan yang besar, tanpa berkoar-koar di media sungguh ia sudah mewujudkan apa arti dari nasionalisme sebenarnya.

Lalu bagaimana dengan kita? Haruskah kita juga membeli kuda, mengumpulkan buku dan berkeliling ke sekolah-sekolah untuk mengajak anak-anak membaca? Tentu tidak. Yang harus kita lakukan adalah jadilah diri kita sendiri dan lakukan sesuatu untuk Indonesia, itulah nasionalisme. Saat kita menjadi mahasiswa, jadilah mahasiswa yang giat dan berprestasi sehingga bisa mengharumkan nama indonesia, jika punya tenaga berlebih lakukan sesuatu yang lebih juga yang masih relevan dengan dunia pendidikan misalkan seperti ikut membantu mengajar disekolah-sekolah informal ataupun hal lain yang positif yang bisa membawa kemajuan untuk bangsa. Menjadi seseorang yang penuh rasa nasionalisme tidak perlu mencela negara lain, tidak perlu menghardik bangsa lain apalagi saling menghardik antar golongan yang jelas-jelas sama-sama bangsa indonesia. Karena dengan melakukan sesuatu untuk bangsa ini walaupun kecil, efeknya akan terasa bagi kemajuan bangsa, membuat bangsa Indonesia semakin maju, membuat bangsa Indonesia semakin jaya dan membuat bangsa indonesia besar itulah arti nasionalisme yang sesungguhnya.

Diary Siti Salamah Azzahra






Apa komentar anda tentang Tulisan Nasionalisme Kuda Pustaka?

Inspirasi Lainnya
Kisah Bolu Pisang dan Es Krim
Selasa, 18 Februari 2020 19:01 WIB
Kisah Bolu Pisang dan Es Krim
Sejak pulang sekolah ia selalu saja menagih janjiku. Mana kutahu bila si sulung yang baru kelas dua SD akan meraih ranking satu, pikirku saat berjanji paling dia hanya akan masuk sepuluh besar saja seperti biasa.
Ketika Ucapan "Terima Kasih Banyak" Sudah Jarang Terdengar
Minggu, 18 Maret 2018 03:17 WIB
Ketika Ucapan "Terima Kasih Banyak" Sudah Jarang Terdengar
Jaman milenial saat ini memang segalanya seperti berubah, mulai dari kebiasaan orang menggunakan alat bantu yang dulu sederhana sekarang diganti dengan peralatan canggih sampai-sampai kebiasaan dalam pergaulan.
Belajar Jadi Muslimah Inspiratif ke Teh Diajeng Lestari, CEO Hijup.com
Minggu, 24 April 2016 06:28 WIB
Belajar Jadi Muslimah Inspiratif ke Teh Diajeng Lestari, CEO Hijup.com
Sabtu dihari kedua puluh tiga dibulan april ini saya berkesempatan untuk ikut dalam acara Startup Meetup yang digelar di Co-Co Space Dipatikur Bandung, tak banyak yang hadir, dari space yang disediakan sebanyak 80 orang terlihat hanya duapertiga yang hadir. Saya sendiri sempat kaget saat datang karena biasanya sudah ramai kalau ada acara, ternyata yang datang baru beberapa saja.
Begini Seharusnya Bergaul di Media dan Era Digital
Jum'at, 25 September 2015 11:52 WIB
Begini Seharusnya Bergaul di Media dan Era Digital
Hidup tanpa Gadget? Hmmmm bisa? Yakin bisa? Cukuplah barang beberapa hari saja tanpa gadget di tangan anda, tidak usah berbulan-bulan, apa masih sanggup? . Ini ternyata bukan sekedar sanggup atau tidak, tapi gadget memang menjadi sebuah kebutuhan, walaupun untuk sebagian orang tidak terlalu menjadi sebuah kebutuhan, tapi sekedar trend atau juga gaya.